At-Takatsur; Belajar Berhenti “Perang” Tanpa Akhir

 

Ada satu momen yang hampir semua orang pernah alami: lelah setelah scrolling media sosial. Bukan karena durasinya, tapi karena isinya. Instagram dipenuhi staycation mewah, LinkedIn penuh pencapaian prestisius, dan TikTok ramai dengan narasi kesuksesan usia muda. Tanpa disadari, ruang digital berubah menjadi arena kompetisi tak kasat mata.

Kita merasa harus terus berlari—bukan untuk tujuan yang jelas, tapi agar tidak tertinggal. Inilah wajah modern dari fenomena lama yang dalam Islam dikenal sebagai takatsur.

Surah At-Takatsur hadir sebagai peringatan keras terhadap manusia yang terlena dalam perlombaan memperbanyak kepemilikan. Ia bukan sekadar bicara tentang harta, tetapi tentang obsesi terhadap “angka”—apa pun bentuknya.

Menariknya, fenomena ini sudah ada sejak masa awal Islam. Diriwayatkan bahwa dua suku di Mekkah saling berlomba menunjukkan siapa yang lebih unggul dalam jumlah dan kehormatan. Bahkan, kompetisi itu berlanjut hingga ke kuburan—menghitung jumlah leluhur demi memenangkan gengsi.

Jika ditarik ke konteks hari ini, “kuburan” itu mungkin telah berubah bentuk menjadi jumlah followers, engagement rate, jabatan, atau saldo rekening. Substansinya sama: manusia mencari validasi melalui angka. Yang berubah hanya mediumnya, bukan penyakitnya.

Secara konsep, banyak dari kita memahami bahwa dunia ini sementara. Kita tahu bahwa kebahagiaan tidak bisa semata diukur dari materi. Namun, pengetahuan itu sering berhenti di kepala, tidak turun ke kesadaran.

Dalam Islam, dikenal tingkatan keyakinan:

  • Ilmul Yaqin: mengetahui secara ilmu
  • Ainul Yaqin: melihat langsung realita

Masalah generasi hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan kedalaman refleksi. Kita tahu hustle culture bisa merusak kesehatan, tetapi tetap menjalaninya demi pengakuan sosial. Kita sadar bahwa flexing tidak membawa ketenangan, tetapi tetap tergoda melakukannya.

Seolah-olah kita memilih untuk tetap berada di level “tahu”, tanpa benar-benar “sadar”.

Ilusi Kepemilikan: Apa yang Sebenarnya Milik Kita?

Ada satu hadis yang relevan untuk direnungkan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia sering berkata, “hartaku, hartaku,” padahal hakikatnya tidak demikian.

Yang benar-benar menjadi milik seseorang hanyalah:

  • Apa yang ia makan hingga habis
  • Apa yang ia pakai hingga usang
  • Apa yang ia sedekahkan, karena itulah yang kekal

Selain itu, hanyalah titipan. Akan ditinggalkan, dan kelak dipertanggungjawabkan.

Ironisnya, sebagian besar energi hidup justru dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang tidak benar-benar dimiliki.

Redefinisi “Menang” di Era Digital

Lalu, apakah menjadi sukses atau kaya adalah sesuatu yang keliru? Tentu tidak. Islam tidak menolak kesuksesan materi. Yang menjadi masalah adalah orientasinya.

Ada dua cara dalam memaknai kompetisi:

Pertama, kompetisi yang berorientasi ibadah.

Di sini, pencapaian dunia dijadikan sarana untuk kebaikan. Harta menjadi alat untuk memberi, posisi menjadi jalan untuk memberi dampak, dan kesuksesan menjadi medium untuk mendekat kepada Allah.

Kedua, kompetisi yang berorientasi validasi.

Segala sesuatu diukur dari pengakuan manusia. Cara menjadi tidak lagi penting, selama hasilnya terlihat “menang”. Inilah jebakan yang sering kali tidak disadari.

Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya sangat besar—bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Berhenti Sejenak, Sebelum Terlambat

Surah At-Takatsur ditutup dengan peringatan bahwa manusia akan terus lalai hingga tiba saatnya “mengunjungi kubur”. Sebuah metafora yang sangat kuat: kesadaran sering kali datang terlambat.

Karena itu, mungkin yang kita butuhkan bukan selalu bergerak lebih cepat, tetapi berhenti sejenak. Menarik napas. Mengoreksi arah.

Di tengah dunia yang terus mendorong untuk tampil, mungkin yang lebih penting adalah kembali bertanya:

  • Untuk apa semua ini?
  • Siapa yang sebenarnya ingin kita puaskan?

Kompetisi tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi bahan bakar untuk berkembang. Namun, ketika kompetisi berubah menjadi ajang pembuktian ego, di situlah kita perlu waspada.

Pada akhirnya, yang akan bertahan bukan apa yang kita tampilkan, tetapi apa yang kita berikan. (Writer:Ahsanul Ulil hAlbab)


Teman Gravel adalah penyedia layanan perjalanan Haji, Umroh, dan Halal Tour yang hadir untuk memudahkan umat Muslim dalam meraih cita-cita spiritualnya.

Tentang Kami

Sejak awal berdiri, Teman Gravel berkomitmen menjadi sahabat terbaik bagi para tamu Allah dalam menapaki perjalanan suci menuju Tanah Haram.

Halaman

Contact Us

Tahun demi tahun kami jalani dengan penuh dedikasi untuk terus meningkatkan mutu layanan serta sistem perjalanan agar setiap jamaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk, aman, dan nyaman. Mengantarkan para tamu Allah ke Tanah Suci serta membuka wawasan umat terhadap sejarah kejayaan Islam di berbagai negara Muslim adalah bagian dari misi dan kebahagiaan kami.

Copyright 2024 | Travel Haji, Umroh dan Halal Tours – www.temangravel.com | PT. Teman Inovasi Grup – PT. Trust Taibah Group

Semua Hak Dilindungi Undang-Undang