Dari Tanah Suci ke Lingkungan; Ibadah dan Keberlanjutan

 

Kita hidup di era di mana kerusakan lingkungan terjadi tepat di depan mata, tetapi sering luput dari kesadaran. Hutan dibabat, sungai tercemar, banjir hingga longsor pun menimpa—namun isu ini jarang benar-benar menjadi bagian dari percakapan umat.

Beberapa sekadar menjadi topik perbincangan sesaat layaknya bencana yang menimpa Sumatera di akhir 2025. Kita mengamini bahwa bencana tersebut bukan semata disebabkan oleh Alam. Namun juga tingginya deforestasi. Penggundulan hutan guna membuka lahan sawit juga pertambangan. Sebagaimana yang disampaikan berbagai media  kredible.


Sayangya, isu ini mendorong mayoritas kita hanya untuk mengkritik kebijakan, lalu tanpa sadar perhatian beralih ditelan informasi kejadian terbaru. Kerusakan lingkungan saat ini disadari atau tidak seolah dibuat seperti kerjaan takdir atau alam itu sendiri. Sehingga isu lingkungan sering dianggap angin lalu karena dikira akan sembuh sendiri.

Namun alfanya kita dalam isu lingkungan, justru menjadi sebab dari keberlangsungan tangan-tangan yang terus merusak lingkungan. Tanpa sadar Udara yang kita hirup, air yang kita minum maupun tanah yang kita pijak kini mesti kita bayar mahal. Walau kita sendiri mungkin tidak pernah ikut merusak lingkungan.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah termaktub di dalam Al-Quran. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Dalam konteks di atas, Ayat ini menjadi penegasan bahwa manusia memegang tanggung jawab atas kondisi bumi. Ironisnya, di tengah berbagai diskursus keagamaan, isu lingkungan sering kali dianggap bukan prioritas.

Sebagai Muslim, isu lingkungan lebih dari sekadar pelengkap beragama, isu ini justru memiliki tempat yang penting dalam ber-Islam. Ada 3 hubungan intergral manusia dalam Islam: Hubungan dengan Tuhan, Hubungan dengan Manusia dan Hubungan dengan Alam. Sebuah konsep yang sering dibahas, namun sering gagal diresapi.

Dalam diskursus terkait dengan tujuan agama atau sering disebut dengan Maqashid Syariah, menjaga lingkungan menjadi salah satu dari tujuan agama Islam diturunkan. Sebab tanpa lingkungan, manusia tidak dapat hidup dengan baik. Dan tanpa kehidupan maka tidak lagi ada kesempatan bagi kita untuk bersujud kepada Allah dan meneruskan tugas sebagai khalifah (penjaga di muka bumi). Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ali Yafi dalam kitab Merintis Fiqh Lingkungan Hidup. 

Di sinilah pentingnya menjaga kesadaran kita. Bahwa menjadi Muslim perlu memperhatikan betul ketiga hubungan integral, tanpa mengenyampingkan salah satunya. Baik hubungan vertikal, sosial, juga ekologis.

Kesadaran ini yang saya rasa perlu melahirkan aksi nyata. Aksi yang kuat dan kolektif. Oleh karena itu, Teman Gravel melihat ini sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual. Perjalanan umroh tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan ritual, tetapi juga sebagai titik balik kesadaran. Bahwa setelah menjadi tamu Allah, seorang Muslim seharusnya kembali dengan kepedulian yang lebih luas—termasuk terhadap lingkungan.

Olehnya, Teman Gravel berkomitmen menghidupkan tiga hubungan utama manusia: hablun minallah, hablun minannas, dan hablun minal bi’ah. Bukan sebagai jargon, tetapi sebagai prinsip yang diterjemahkan dalam aksi nyata.

Salah satunya melalui program “1 Jamaah 1 Pohon.”

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa menanam pohon adalah amal yang terus mengalir pahalanya. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa setiap makhluk yang memanfaatkan tanaman tersebut menjadi sedekah bagi yang menanamnya. Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga ibadah.

Program ini berangkat dari gagasan sederhana: setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji berkontribusi pada penanaman satu pohon. Pohon-pohon ini ditanam di wilayah yang membutuhkan, seperti lahan kritis, daerah rawan longsor, atau kawasan yang mengalami degradasi lingkungan.

Pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan komunitas lokal agar pohon yang ditanam tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang. Jamaah juga mendapatkan laporan sebagai bentuk transparansi dan keterlibatan.

Lebih dari itu, program ini ingin menanamkan kesadaran bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi berlanjut dalam bentuk kontribusi nyata terhadap kehidupan.

Bayangkan jika gerakan ini dilakukan secara kolektif. Seribu jamaah berarti seribu pohon. Sepuluh ribu jamaah berarti lahirnya kawasan hijau baru. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya soal jumlah pohon, tetapi tentang membangun ekosistem kepedulian.

Di tengah krisis lingkungan global, langkah kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada wacana besar tanpa aksi. Dan bisa jadi, solusi tidak selalu harus datang dari kebijakan besar, tetapi dari gerakan komunitas yang tumbuh dari kesadaran spiritual. (Writer;Ahsanul Ulil)


Teman Gravel adalah penyedia layanan perjalanan Haji, Umroh, dan Halal Tour yang hadir untuk memudahkan umat Muslim dalam meraih cita-cita spiritualnya.

Tentang Kami

Sejak awal berdiri, Teman Gravel berkomitmen menjadi sahabat terbaik bagi para tamu Allah dalam menapaki perjalanan suci menuju Tanah Haram.

Halaman

Contact Us

Tahun demi tahun kami jalani dengan penuh dedikasi untuk terus meningkatkan mutu layanan serta sistem perjalanan agar setiap jamaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk, aman, dan nyaman. Mengantarkan para tamu Allah ke Tanah Suci serta membuka wawasan umat terhadap sejarah kejayaan Islam di berbagai negara Muslim adalah bagian dari misi dan kebahagiaan kami.

Copyright 2024 | Travel Haji, Umroh dan Halal Tours – www.temangravel.com | PT. Teman Inovasi Grup – PT. Trust Taibah Group

Semua Hak Dilindungi Undang-Undang