Hati adalah media panggilan
Tidak semua mampu berangkat ke Baitullah. Dan tidak semua yang belum mampu berarti belum dipanggil. Dalam banyak kisah perjalanan spiritual, umroh bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah undangan ilahi. Ada momen di mana hati tiba-tiba rindu pada Makkah, sering melihat konten umroh, dan rezeki mulai terbuka dari arah yang tak disangka. Itu bukan kebetulan. Itu bisa jadi tanda bahwa Allah sedang memanggil.
Rasa rindu kepada Makkah bukanlah hal biasa. Ia bukan sekadar emosi, tetapi getaran iman. Para ulama menjelaskan bahwa kerinduan kepada tempat-tempat suci adalah bagian dari tanda hidupnya hati. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah pernah menyampaikan bahwa hati manusia akan selalu condong kepada sesuatu yang memiliki hubungan dengan Allah. Ketika hati mulai condong kepada Ka’bah, itu adalah isyarat bahwa ada panggilan dari langit.
Beliau mengatakan:
وَفِي الْقَلْبِ شَوْقٌ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى لِقَائِهِ، وَهَذَا الشَّوْقُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحَرِّكُ الْعَبْدَ إِلَى الطَّاعَةِ
“Di dalam hati ada kerinduan kepada Allah dan kepada perjumpaan dengan-Nya. Kerinduan ini adalah salah satu penggerak terbesar seorang hamba menuju ketaatan.”
Ketika seseorang mulai sering melihat konten umroh, mendengar kisah-kisah haru di depan Ka’bah, atau merasa tersentuh setiap kali mendengar talbiyah, itu bukan sekadar algoritma media sosial. Bisa jadi itu cara Allah mengetuk hati kita—pelan, tapi pasti.
Fenomena ini juga dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam karya-karyanya tentang perjalanan hati. Beliau menekankan bahwa hidayah sering datang dalam bentuk “lintasan hati” (khathir), yaitu dorongan lembut yang mengarahkan manusia pada kebaikan. Jika lintasan itu terus berulang—tentang umroh, tentang Ka’bah, tentang ingin sujud di Multazam—maka jangan diabaikan. Itu bisa jadi undangan.
Salah satu tanda lain adalah terbukanya rezeki. Tiba-tiba ada peluang baru, bisnis mulai bergerak, atau ada jalan untuk menabung yang sebelumnya terasa mustahil. Ini sejalan dengan janji Allah dalam Al-Qur’an:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
(Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.) — QS. At-Talaq: 2-3
Banyak jamaah umroh yang bersaksi: awalnya mereka merasa tidak mampu. Tapi ketika niat itu muncul dan dijaga, Allah bukakan jalan satu per satu. Dari yang awalnya hanya melihat-lihat, berubah menjadi menabung, lalu akhirnya benar-benar berangkat.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad, beliau bersabda:
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ
“Iringilah antara haji dan umroh, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menjadi penguat bahwa umroh bukan membuat seseorang miskin, justru menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki. Maka ketika ada dorongan kuat untuk berangkat, jangan ditunda-tunda dengan alasan takut biaya. Bisa jadi justru dengan berangkat, Allah melapangkan hidup kita.
Namun, penting untuk dipahami: tanda dipanggil bukan berarti kita hanya menunggu. Panggilan itu harus dijemput. Seperti undangan, ia harus direspons. Dalam bahasa para ulama, ini disebut ijabah—menjawab panggilan Allah.
Doa menjadi kunci utama. Ada doa yang diajarkan untuk memohon agar dimudahkan menuju Baitullah:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ ضُيُوفِكَ الَّذِينَ تَغْفِرُ لَهُمْ وَتَرْحَمُهُمْ
“Ya Allah, karuniakan kami kesempatan untuk mengunjungi rumah-Mu yang mulia, dan jadikan kami termasuk tamu-tamu-Mu yang Engkau ampuni dan Engkau rahmati.”
Selain itu, langkah nyata juga harus dimulai. Menabung adalah bentuk keseriusan. Tidak harus langsung besar. Yang penting konsisten. Bahkan hari ini sudah banyak cara untuk memulai: bisa menabung mandiri, atau menggunakan program tabungan umroh bersama travel yang aman dan terpercaya seperti Teman Gravel.
Di sinilah letak makna sebenarnya: ketika hati sudah dipanggil, maka kaki harus mulai melangkah. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu “nanti”. Karena sering kali, yang membuat seseorang sampai ke Ka’bah bukanlah kemampuannya, tetapi keberaniannya untuk menjawab panggilan.
Maka jika hari ini kamu merasa Hati mulai rindu Makkah, Sering melihat konten umroh, Dan rezeki perlahan terbuka, Jangan anggap itu kebetulan. Bisa jadi, Allah sedang berkata: “Sudah saatnya kamu datang.”Dan tugasmu hanya satu: menjawabnya.